Investor Asing Miliki 100% Saham Di 25 Unit Bisnis

Investor Asing Miliki 100% Saham Di 25 Unit Bisnis

Investor Asing Miliki 100% Saham Di 25 Unit Bisnis, Baru-baru ini, ada kabar cukup viral di media sosial terkait adanya kebijakan pemerintah yang mengizinkan investor asing boleh memiliki saham di beberapa unit bisnis secara penuh atau 100%.

Rencana ini tentu saja mendapatkan kritik dari banyak pihak. Tentu, pemerintah juga akan mengadakan evaluasi lanjutan terkait dengan kebijakan ini.

Investor Asing Miliki 100% Saham di 25 Unit Bisnis

Pemerintah akan mengizinkan investor asing untuk memiliki kepemilikan penuh di 25 unit bisnis yang termasuk ke dalam 54 unit bisnis yang dihapus dari,

Daftar Negatif Investasi (DNI) dan sudah ditetapkan dalam paket kebijakan ekonomi 16 yang diumumkan awal pekan ini. Kata Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution seperti dikutip oleh kompas.com,

Rabu, penarikan [54] unit bisnis dari daftar investasi negatif tidak dapat mengundang investor asing untuk mengambil alih (bisnis) secara penuh.

Kebijakan ini bertujuan untuk meningkatkan investasi asing dan diperkenalkan di tengah upaya pemerintah untuk mempersempit defisit neraca berjalan dan defisit perdagangan,

dimana akibat hal tersebut rupiah berada dalam posisi lemah terhadap mata uang asing, khususnya dolar AS.

Kantor Menteri Koordinator Ekonomi Menteri Susiwijono mengatakan penghapusan 54 unit bisnis dari DNI bertujuan untuk menarik investor asing. Dia mengatakan DNI akhir akan dimasukkan dalam revisi Peraturan Presiden No. 44/2017, dan diharapkan akan dikeluarkan minggu ini.

Di antara unit bisnis lainnya, investor asing akan diizinkan untuk mengambil kepemilikan penuh di bidang komunikasi dan informasi. Hanya saja, ii baru sekedar rencana, tapi sudah mendekati tahap realisasi. Tergantung bagaimana nanti publik menilai.

Jokowi Ajak Investor Asing Miliki 100% Dan Kementrian Evaluasi Lebih Lanjut Dari Kebijakan Investasi

Sementara paket kebijakan ekonomi terbaru baru diumumkan awal minggu ini,Presiden Joko “Jokowi” Widodo telah meminta menteri-menterinya untuk mengevaluasi lebih lanjut.

Kebijakan tentang investasi dan insentif pajak untuk memastikan kebijakan tersebut dapat menarik lebih banyak investor, khususnya asing. Kunci untuk pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi adalah investasi dan ekspor, kata Presiden di Istana Bogor di Jawa Barat pada hari Rabu.

Dia menambahkan bahwa, oleh karena itu, pemerintah perlu terus melakukan perbaikan terkait dengan kebijakan investasi untuk membuat Indonesia lebih kompetitif di mata dunia.

Semua upaya itu diperlukan karena Indonesia mengalami defisit ganda – defisit neraca berjalan dan defisit perdagangan. Pemerintah harus  memastikan bahwa insentif akan masuk ke sektor-sektor yang dapat memperkuat industri untuk memperkuat ekonomi nasional. Hal senada dijelaskan oleh Presiden ketika membuka rapat kabinet terbatas mengenai investasi dan perpajakan.

Dia mengatakan, lebih banyak investasi di sektor industri manufaktur dapat membantu Indonesia mengubah ekonominya dari ketergantungannya pada sumber daya alam menjadi lebih bergantung pada produk manufaktur yang memiliki nilai tambah lebih bagi perekonomian. Menurut presiden, dengan semua upaya tersebut, pemerintah dapat merevitalisasi industri dan mengurangi ketergantungan pada bahan baku impor. Ini dilakukan untuk memaksimalkan pemanfaatan sumber daya ekonomi domestik.

Jokowi mengatakan target kebijakan investasi tidak hanya untuk menciptakan lapangan kerja dan mengurangi pengangguran, tetapi juga untuk membantu bisnis, terutama usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) dan koperasi berkembang. Langkah ini juga dapat diimplementasikan melalui transfer teknologi dan kemitraan antara perusahaan besar dan UMKM.

Sejauh ini, kebijakan investasi dipandang merugikan oleh banyak pihak terutama pihak usaha mikro yang sangat terasa dampak dari kebebasan asing memiliki beberapa unit bisnis. Banyak usaha mikro bahkan makro yang pada akhirnya tidak bisa berkompetisi dan berakhir dengan gulung tikar. Dampaknya, seharusnya juga diusahakan pemerintah agar usaha mikro tetap bertahan