Dokter Bimanesh Sutarjo merasa diperdaya pengacara Setya Novanto

Dokter Bimanesh Sutarjo mengatakan bahwa dirinya diperdaya oleh advokat Fredrich Yunadi pada pemeriksaan sebagai terdakwa di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Kamis 7 Juni 2018. Dokter rumah sakit Medika Permata Hijau tersebut mengungkapkan kepada jaksa serta majelis hakim bahwa ada 3 hal yang ia sesali.

 

3 Point penyesalan dokter Bimanesh

Lebih jauh ia mengaku merasa bersalah karena kurang cermat melihat niat tak baik pengacara Setya Novanto di belakangnya. Penyesalan pertamanya adalah, tidak menolak permohonan Fredrich untuk merawat Setya Novanto di RS Medika Permata Hijau padahal saat itu dirinya tengah memiliki masalah hukum. Fredrich dikatakan telah memberi tahu dirinya tentang rekayasa kecelakaan sebelum melakukan perawatan.

 

Bimanesh menyesal karena seharusnya saat itu ia segera menghubungi penyidik KPK agar Setya Novanto bisa ditangkap. Kedua, dokter tersebut juga menyesal atas ketidakjujurannya kepada penyiduk tentang hasil observasinya atas kondisi terdakwa. Saat itu Bimanesh mengatakan melihat luka lecet yang ringan pada bagian tangan, leher, serta kening Setya Novanto.

 

Berikutnya ia juga sesungguhnya kurang yakin bahwa luka ringan tersebut disebabkan oleh kecelakaan tersebut. Terakhir, yang bersangkutan juga menyesali tindakannya telah memasang pemberitahuan bahwa pasien harus beristirahat dan tak dapat dibesuk, lengkap dengan tanda tangannya sebagai dokter yang  bertanggungjawab. Pemberitahuan tersebut ditempelkan di kertas pada pintu ruang rawat inap VIP 323.

 

Dokter Bimanesh juga menyebutkan bahwa Fredrich berbohong tentang status hukum Setya Novanto. Imbauan yang dipasangnya tersebut ternyata dijadikan alasan oleh Fredrich untuk menghalangi serta mengusir penyidik KPK. Sekali lagi dokter Bimanesh menyatakan penyesalannya telah memasang pengumuman tersebut sehingga turut terseret dalam kasus korupsi yang menjerat Setya Novanto.

 

Seperti yang diketahui, bersama dengan Advokat Fredrich Yunadi, dokter Bimanesh didakwa telah merencanakan rekayasa untuk membuat mantan Ketua DPR Setya Novanto dirawat di rumah sakit akibat kecelakaan. Drama yang dirancang oleh Fredrich Yunadi tersebut dilakukan dalam rangka menghindari pemeriksaan oleh KPK. Novanto diketahui sebagai tersangka pada kasus mega korupsi e-KTP.

 

Dokter Bimanesh sempat menegur pengacara Setya Novanto

Sehari setelah dirawat di rumah sakit tersebut, dokter Bimanesh menyebutkan dirinya sempat menegur Fredrich Yunadi. Alasannya karena advokat bandar togel online berkumis tebal itu telah menyebarkan foto-foto terdakwa Novanto saat tengah berada di ruang perawatan inap.

 

Kepada Fredrich dirinya mengatakan ketidaksetujuannya dengan perbuatan Fredrich setelah menyaksikan foto Setya Novanto di media social karena ini adalah hal yang tidak etis dilakukan di rumah sakit. Pengacara Setya Novanto mengatakan memang sengaja memotret keadaan Novanto yang menyebarkannya, sementara Bimanesh keberatan karena melanggar kebijakan di rumah sakit, apalagi berhubungan dengan orang yang merupakan pasien Medika Permata Hijau.

 

Selain pasien itu sendiri, orang lain tidak diijinkan untuk menyebarkan fotonya yang tengah mendapat perawatan. Pada November 2017 lalu, Fredrich menunjukkan foto kliennya tersebut tengah berbaring di ruang rawat inap kepada media. Ia juga mengatakan bahwa Novanto terluka cukup parah pasca kecelakaan lalu lintas. Dengan dramatis pengacara itu juga mengatakan Novanto mengalami cedera parah di bagian kepala, yang ia katakana benjol sebesar bakpao.

 

Dokter Bimanesh Sutarjo dan pengacara Fredrich Yunadi dijerat dengan pasal pidana menghalangi penyidikan kepada terdakwa kasus korupsi e-KTP. Kejahatan tersebut diancam dengan hukuman pidana maksimal 12 tahun. Kedua terdakwa dinyatakan telah melanggar pasal 21 UU Nomor 31/1999 yang berkaitan dengan Pemberantasan Tindak Korupsi.

 

KPK Memeriksa ‘Sopir Setnov’, Hilman

KPK atau Komisi Pemberantasan Korupsi memeriksa pria yang mengendarai mobil Setya NOvanto, Ketua Dewan Perwakilan Rakyat, yakni Hilman Mattauch. Pasalnya Hilman berada dengan Setnov pada malam ketika kecelakaan mobil Fortuner milik Setnove menabrak tiang listrik. Ia diperiksa di tengah buran lembaga antirasuah.

Enggan Mengungkapkan Materi Penyidikan

Setelah dirinya diperiksa oleh KPK pada Hari Senin (11/12) kemarin, mantan contributor stasiun TV berita tersebut menolak untuk menjelaskan materi pemeriksaan yang dilakukan oleh beberapa penyidik lembaga antirasuah. Menurut dirinya, pertanyaan yang diajukan oleh awak media judi bola adalah materi penyelidikan. “Biasa tadi sih diperiksa aja, materi penyelidikan itu,” ucap Hilman saat ditemui di gedung KPK yang terletak di Jakarta pada hari Senin kemarin.

Pria yang mana juga pernah menjadi Ketua Koordinatoriat Wartawan Parlemen tersebut tidak lanta menjelaskan kebih jauh lagi tentang penyelidikan kasus yang dimaksudkan. Menurut Hilman sendiri, ia tak bisa menjelaskan terkait dengan materi pertanyaan yang mana tadi disampaikan oleh KPK. “Soal materi penyelidiakan itu, enggak enak saya,” imbuhnya.

Ketika ia disinggung penyelidikan dirinya berkaitan dengan kasus dugaan menghalangi atau dengan sengaja merintangi penyidikan kasus dugaan korupsi proyek mega pengadaan e-KTP dengan tersangkan Setya Novanto, langsung saja ia menampiknya. “Tanya ke KPK saja, tanya juga ke penyidik saja. Saya mesti ke Polda, harus wajib lapor juga nih,” lanjutnya. Hilman sendiri pasalnya dikenai wajib lapor setiap hari Senin dan juga Kamis ke Mapolda Metro Jaya. Ia juga pasalnya sudah ditetapkan sebagai tersangka kasus kecelakaan dan ia dianggap telah lalai dalam berkendara sehingga akibatnya menyebabkan orang lain terluka.

Dikenai Wajib Lapor

Hilman, pria yang sempat menjadi wartawan MetroTV itu akan menjalani wajib lapor di Polda Metro Jaya selama polisi menuntaskan berkas perkara yang menjerat dirinya secara lengkap. Dan wajib lapor yang dikenakan pada dirinya itu dilakukan sebagai bentuk dari pengawasan dan juga guna meminta keterangan tambahan. Hilman sendiri sudah ditetapkan sebagai tersangka yang sudah lalai dalam ebrkendara sehingga menyebabkan orang lainnya terluka. Ia menjadi sopir ketika kecelakaan mobil Fortuner milik Setya Novanto melaju menuju gedung KPK.

AKBP Budiyanto, Kasubdit Pembinaan dan Penegakan Hukum Lalu Lintas Polda Metro Jaya mengatakan bahwa wajib lapor yang mana Hilman lakukan sudah berlangsung sejak hari Senin pada tanggal 21 November 2017. Hilman sendiri diwajibkan lapor dua kali yakni tiap hari Senin dan Kamis. Budiyanto mengatakan, “Hilman wajib lapor sudah dari Senin dan seminggu 2 kali wajib lapor ke Polda. Tadi pagi juga ia sudah lapor.”

Hilman dijerat dengan pasal 283 Juncto Pasal 310 Undang-Undang Nomor 22 tahun 2009 soal Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Budiyanto juga menambahkan bahwa polisi akan meminta keterangan NOvanto tentang kecelakaan itu. dan pemeriksaan itu bakal tetap dilakukan di KPK kira-kira pada sore hari. Menurutnya juga, kesaksian Novanto juga menjadi sangat penting karena ia adalah saksi yang melihat, mendengar, dan jug mengalami kecelakaan itu. “Keterangan dia, mendengar, menyaksikan dan juga mengalami kejadian itu,” tuturnya.

KPK juga memfasilitasi penyidik dari Polda Metro Jaya yang memeriksa Ketua DPR yang sekarang menjadi tersangkan korupsi e-KTP, Setya Novanto, untuk bisa mendalami kecelakaan mobil yang mana ditumpangi Setnov pada hari Kamis, 16 November 2017 silam. Ketika terjadi kecelakaan dirinya tengah di dalam pencarian KPK.